Selasa, 23 Desember 2014

Asal Usul Kota Surabaya

Menurut legenda, nama Kota Surabaya, Ibu Kota Propinsi Jawa Timur, berasal dari gabungan kata Sura yang merupakan nama seekor ikan hiu besar dan Baya yang merupakan nama seekor buaya besar. Berikut ini sejarah singkat mengenai asal usul nama Surabaya.
Alkisah pada zaman dahulu hidup seekor buaya besar bernama Baya. Ia mempunyai musuh bebuyutan seekor ikan hiu besar bernama Sura. Hampir setiap hari keduanya berkelahi. Karena sama-sama kuat, tangguh, dan tangkas, tidak ada yang menang maupun kalah. Jika keduanya tengah berkelahi, perairan di sekitarnya akan menjadi bergelombang besar dan keruh. Hewan-hewan yang hidup disekitar mereka merasa terganggu dan berusaha untuk mendamaikan keduanya. Namun Sura dan Baya terus saja bermusuhan dan berkelahi.

Permusuhan Antara Sura Dan Baya

Sampai pada titik tertentu, keduanya merasa kelelahan dengan permusuhan itu. Akhirnya Sura dan Baya sepakat untuk menghentikan permusuhan mereka, setidaknya untuk sementara waktu. “Baya, aku mulai lelah dengan permusuhan kita. Hampir tiap hari kita berkelahi dan tidak ada yang menang maupun kalah. Bagaimana kalau kita membagi wilayah kekuasaan dan menghentikan permusuhan kita?” kata Sura pada Baya.
“Boleh saja. Aku juga sudah lelah dengan permusuhan ini. Bagaimana aturan pembagian wilayah kekuasaan ini?” tanya Baya.
“Batas wilayah kita adalah daerah dimana air mencapainya di waktu laut pasang. Aku menguasai perairan dan Engkau menguasai daratan. Semua mangsa di laut menjadi bagianku, begitu juga semua mangsa di darat menjadi bagianmu.” kata Sura.
“Cukup adil. Baiklah kalau begitu Aku setuju.” kata Baya.
Akhirnya tercapailah persetujuan antara Sura dan Baya. Sejak saat itu mereka sudah tidak lagi berkelahi memperebutkan daerah kekuasaan. Masing-masing menguasai daerah kekuasaannya.
Tapi sayang perdamaian diantara keduanya tidak berlangsung lama. Sura mulai melanggar peraturan yang ia ajukan sendiri. Ia tidak saja mencari makan di daerah kekuasaannya di laut, tapi ia juga mencari mangsa di daerah kekuasaan Baya yaitu di sungai. Hal itu ia lakukan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh Baya. Tapi lambat laun Baya mulai mengetahui kecurangan yang dilakukan Sura.
Suatu ketika Baya melihat Sura tengah mencari mangsa di daerah kekuasaannya di sungai. Dengan marah Baya mendekati Sura dan memarahinya. “Hai Sura! Mengapa engkau berlaku curang dengan mencari mangsa di daerah kekuasaanku? Bukankah engaku sendiri yang membuat peraturan wilayah kekuasaan ini?” kata Baya dengan marah.
Sura nampaknya tidak mau mengakui kecurangannya dan mengatakan bahwa ia tidak melanggar perjanjian. “Apa katamu Baya? Aku melanggar perjanjian? Aku tidak melanggar wilayah kekuasaanmu. Kan sudah Aku bilang, kalau Aku menguasai wilayah perairan dan engkau menguasai wilayah daratan. Jadi apa salah jika aku mencari mangsa di sungai?’ kata Sura tidak mau kalah.
Baya merasa Sura hanya mencari-cari alasan. “Hai Sura! Kau hanya mencari-cari alasan agar bisa mencari mangsa di daerah kekuasaanku. Sekarang perjanjian diantara kita telah berakhir karena Engkau melanggarnya. Mari kita bertarung! Siapa yang menang maka dia menjadi penguasa baik di daratan maupun di perairan!” Baya menantang Sura.
“Baiklah mari kita bertarung untuk menentukan siapa yang terkuat diantara kita.” teriak Sura.

Pertarungan Hebat Sura Dan Baya

Mereka berdua akhirnya kembali bertarung dengan hebatnya. Keduanya saling menggigit tubuh lawannya dengan gigi runcingnya. Sura menggigit ekor Baya sementara Baya juga mengigit ekor Sura hingga hampir putus. Sura merasa kesakitan karena ekornya hampir putus oleh gigitan Sura yang bergigi sangat tajam dan kuat. Karena tidak tahan, akhirnya Sura berenang kembali ke laut. Sementara ekor Baya terluka parah karena gigitan Sura, yang mengakibatkan ekornya selalu membelok ke kiri. Namun Baya merasa senang karena telah memenangkan pertandingan tersebut. Sura telah kembali ke laut karena ekornya terluka parah.

Sura Dan Baya Menjadi Asal Usul Nama Surabaya

Perkelahian antara Sura dan Baya tersebut disaksikan oleh warga sekitar. Warga merasa takjub dengan dahsyatnya perkelahian tersebut. Akhirnya warga memberi nama tempat mereka tinggal dengan paduan nama Sura dan Baya, yakni Surabaya. Begitulah menurut cerita rakyat mengenai asal usul nama Surabaya. Hingga kini Surabaya menjadi ibukota Propinsi Jawa Timur dan merupakan salah satu kota besar di Indonesia.

cuplikanvidionya:
gambar/icon kotasurabaya:

  SUMBeER:budaya-indonesia.org/Asal-Usul-Nama-Surabaya/











Senin, 22 Desember 2014

Lutung Kasarung

Diceritakan terdapat seorang raja bernama Prabu Tapa Agung telah memimpin sebuah kerajaan di Jawa Barat untuk waktu yang lama. Dia sudah tua dan karena itu ingin memilih penggantinya. Tapi sayangnya, ia tidak memiliki putra. Dia berpikir untuk memilih salah satu putrinya, Purbararang dan Purbasari. Tapi itu bukan pilihan yang mudah. Mereka berdua sangat cantik dan cerdas. Satu-satunya perbedaan adalah temperamen mereka. Purbararang kasar dan tidak jujur​​, sedangkan Purbasari adalah baik dan peduli. Dengan pertimbangan tersebut, Prabu Tapa Agung akhirnya memilih Purbasari menjadi penggantinya.

Purbararang tidak setuju dengan keputusan ayahnya. "Ini seharusnya miliki ku, Ayah. Aku anak perempuan tertua "kata! Purbararang. Prabu Tapa Agung tersenyum. "Purbararang, untuk menjadi seorang ratu bukanlah hal mengenai usia. Ada banyak kualitas lain yang kita harus miliki, "jelas Prabu Tapa Agung bijaksana. "Apa Purbasari memiliki yang saya tidak?" Cemberut Purbararang. "kamu akan mengetahui ketika Purbasari telah menggantikan ku," jawab Prabu Tapa Agung.

Setelah perdebatan tersebut, Purbararang kembali ke kamarnya. "Apakah ada sesuatu yang salah?" Tanya Indrajaya. Indrajaya adalah calon suami Purbararang. "Saya kesal! Ayah memilih Purbasari sebagai penggantinya dan bukan aku! Aku harus melakukan sesuatu! "Kata Purbararang. Gila karena kemarahannya, dia datang ke penyihir dan memintanya untuk mengirim ruam ke seluruh tubuh Purbasari. Sebelum tidur, Purbasari mulai merasa gatal di seluruh tubuhnya. Dia mencoba menggunakan bedak ke tubuhnya, tapi itu tidak ada gunanya. Sebaliknya, gatalnya bahkan lebih buruk. Dia tidak ingin menggaruknya, tapi dia tidak bisa menahannya. Pada pagi berikutnya, terdapat tanda bekas cakaran di seluruh tubuh Purbasari itu. "Apa yang terjadi padamu?" Tanya Purbararang, pura-pura prihatin. "Saya tidak tahu, kak. Tadi malam, tubuh saya tiba-tiba merasa sangat gatal. Saya menggaruk dan terus menggaruk, dan ini adalah apa yang terjadi, "jawab Purbasari. Purbararang menggeleng. "Kamu pasti telah melakukan sesuatu yang sangat mengerikan. Kamu telah dihukum oleh para dewa! "

Hari itu, seluruh kerajaan itu terkejut. "Apa yang telah kamu lakukan, Purbasari?" tanya Prabu Tapa Agung. Purbasari menggeleng. "Aku tidak melakukan apa pun yang akan membuat marah para dewa, Ayah," jawabnya. "Lalu bagaimana kamu menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh kamu?" Tanya Prabu Tapa Agung lagi. "Jika kamu tidak mengaku, aku akan mengusir kamu ke hutan." Purbasari mengambil napas panjang. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak melakukan sesuatu yang salah. Dan aku lebih suka dilemparkan ke hutan daripada mengakui perbuatan yang saya tidak lakukan. "

Setelah diskusi singkat dengan penasihat, Prabu Tapa Agung memerintahkan Purbasari untuk dipindahkan ke hutan. Purbasari sangat sedih, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menentang perintah ayahnya. Dia didampingi oleh seorang utusan untuk pergi ke hutan .Utusan tersebut membangun sebuah gubuk sederhana untuk Purbasari. Setelah utusan tersebut pulang, tiba-tiba seekor monyet hitam datang ke pondok Purbasari. Dia membawa setandan pisang. Dari belakangnya, beberapa hewan menyaksikannya. "Apakah pisang tersebut untuk saya?" Tanya Purbasari. Monyet hitam mengangguk, seolah-olah ia mengerti apa yang Purbasari katakan. Purbasari mengambil pisang dengan senang hati. Dia juga mengatakan terima kasih. Hewan-hewan lain yang sedang melihatnya juga tampak tersenyum. "Apakah kamu bersedia menjadi teman ku?" Tanya Purbasari kepada mereka. Semua binatang mengangguk gembira. Meskipun dia tinggal sendirian di hutan, Purbasari tidak pernah kekurangan makanan. Setiap hari, selalu ada hewan yang membawa buah-buahan dan ikan untuk dimakan.

Waktu yang lama telah berlalu sejak Purbasari dibuang ke hutan, tapi tubuhnya masih gatal. Pada beberapa tempat, kulitnya bahkan sudah memborok. Apa yang harus saya lakukan? "Purbasari mendesah. Monyet yang duduk di sebelahnya tetap diam, ada air mata di matanya. Dia berharap Purbasari akan tetap sabar dan kuat.
 
Suatu malam, pada bulan purnama, monyet tersebut membawa Purbasari ke sebuah lembah. Ada sebuah kolam dengan air panas. Monyet tiba-tiba berbicara, "Air kolam ini akan menyembuhkan kulit mu," katanya. Purbasari terkejut, "kamu bisa bicara? Siapa kamu? "Tanyanya. "Kamu akan tahu, pada waktunya," kata monyet tersebut. Purbasari tidak mau memaksa monyet. Dia kemudian berjalan ke kolam. Ia mandi di sana. Setelah beberapa jam, Purbasari keluar dari kolam. Dia terkejut melihat wajahnya yang tercermin pada air kolam yang jernih tersebut. Wajahnya cantik lagi, dengan kulit halus dan bersih. Purbasari mengamati seluruh tubuhnya. Tidak ada jejak dari setiap penyakit kulit. "Saya sembuh! Saya sembuh "teriak Purbasari dalam sukacita. Dia lekas berterimakasih kepada para dewa dan juga untuk monyet tersebut.
 
Kabar mengenai kondisi Purbasari dengan cepat menyebar ke kerajaan, membuat jengkel Purbararang. Dia kemudian ditemani oleh Indrajaya pergi ke hutan untuk melihat Purbasari. Purbasari bertanya apakah dia akan diizinkan pulang. Purbararang mengatakan bahwa dia akan membiarkan Purbasari kembali ke istana jika rambut Purbasari lebih panjang dari miliknya. Purbararang kemudian membiarkan rambutnya jatuh. Rambut itu sangat panjang, hampir menyentuh tanah. Tapi ternyata rambut Purbasari dua kali lebih panjang dari pada rambutnya Purbararang.
 
"Baik, jadi rambut kamu lebih panjang dari pada milikku." Purbararang mengakui. "Tapi ada satu kondisi yang kamu harus penuhi, apakah kamu memiliki calon suami yang lebih tampan dari pada milik ku" Kata Purbararang sambil berjalan menuju Indrajaya. Purbasari merasa sengsara. Dia belum memiliki calon suami. Jadi, tanpa berpikir panjang, ia menarik monyet hitam di sampingnya.
 
Purbararang dan Indrajaya tertawa, tapi tawa mereka tidak berlangsung lama. Monyet tersebut kemudian bermeditasi dan tiba-tiba berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan, lebih tampan dari pada Indrajaya. "Saya seorang pangeran dari kerajaan yang jauh. Saya dikutuk menjadi monyet karena kesalahan yang saya perbuat. Saya bisa mendapatkan kembali bentuk saya yang sebenarnya hanya jika ada seorang gadis yang bersedia menjadi istriku, "kata pria muda tersebut.
 
Akhirnya, Purbararang menyerah. Dia menerima Purbasari sebagai ratu, dan juga mengakui semua yang telah ia lakukan. "Maafkan saya. Jangan hukum saya, "kata Purbararang, meminta pengampunan. Bukannya marah, Purbasari tersenyum. "Aku memaafkanmu, kak," katanya. Segera setelah itu, Purbasari menjadi ratu. Di sampingnya adalah pangeran tampan, mantan monyet yang dikenal sebagai Lutung Kasarung.

 cuplikan vidionya:



Sumber: http://www.zonasiswa.com/2014/02/cerita-rakyat-lutung-kasarung-lutung.html

Minggu, 21 Desember 2014

Bawang Merah dan Bawang Putih

Bawang Putih adalah seorang gadis yatim piatu. Dia tinggal di sebuah desa kecil bersama dengan Ibu tirinya yang juga mempunyai anak sebaya dengan dirinya, Bawang Merah nama anak Ibu tirinya itu.
Berbeda dengan Bawang Merah yang setiap hari kerjanya hanya bermalas-malasan dan bersolek saja, Bawang Putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dari pagi hingga petang.
Pagi-pagi sekali setelah menanak nasi dan merebus air, Bawang Putih sudah harus berlari-lari kecil menuju ke sungai dengan cucian yang bertumpuk-tumpuk. Selepas itu Bawang Putih masih harus mengumpulkan ranting-ranting kayu untuk bahan  bakar. Namun Bawang Putih tak pernah mengeluh. Dia  hanya selalu berharap, kelak Sang Pencipta akan mengirim seorang penolong untuk dirinya.
Permohonannya yang sungguh-sungguh mendapatkan jawaban dari Sang Pencipta. Di sungai tempat Bawang Putih biasa mencuci tiba-tiba muncul seekor ikan emas. Dan keajaiban pun terjadi, setiap kali Bawang Putih mencelupkan pakaian-pakaian kotor itu ke dalam air, seketika itu juga pakaian itu menjadi bersih.
Bawang Putih pun menjadi sangat bersyukur dengan kehadiran ikan emas ajaib itu. Kini dia tak lagi harus mengeluarkan tenaga banyak untuk menyelesaikan cuciannya. Namun yang lebih menggembirakan, Bawang Putih merasa tidak kesepian lagi dengan hadirnya ikan emas itu. Bawang Putih menjadikan ikan emas itu sebagai sahabat dan tempatnya berkeluh kesah.
Bawang Putih kadang sering merasa heran karena setiap kali mengajak bicara, ikan emas itu seperti mengerti semua yang dikatakannya.
“Aku tidak tahu apakah kamu bisa mengerti atau tidak semua kata-kataku, yang pasti aku sangat berterima kasih kepadamu,” berkata Bawang Putih penuh perasaan.
Namun kebahagiaan Bawang Putih tidak berlangsung lama. Diam-diam Bawang Merah dan Ibu tirinya yang merasa curiga karena Bawang Putih dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, menguntit Bawang Putih ke sungai.
“Oh, jadi ikan emas itu yang selama ini membantu Bawang Putih. Hem, akan aku buat kamu menderita Bawang Putih !” ancam Bawang Merah dan Ibunya.
Ancaman mereka berdua benar-benar diwujudkan. Keesokan harinya ketika pag-pagi Bawang Putih datang ke sungai, dia tak menemukan lagi sahabatnya ikan emas. Dengan panik Bawang Putih mencari kesana-kemari di sepanjang sungai. Namun sampai lelah mencari dan suaranya pun nyaris habis, ikan emas tetap tak dapart ditemukan.
“Kamu mencari ikan emas temanmu itu ? Dia ada di sini,” berkata Bawang Merah yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Be … benarkah ? Dimanakah dia ?” tanya Bawang Putih penuh harap.
“Ini temanmu ikan emas, aku bawa,” tiba-tiba ibunya juga muncul dari balik pohon sambil menyerahkan bungkusan.
Bawang Putih seakan tak percaya memandangi isi bungkusan kecil yang berisi tulang belulang ikan emas itu.
“Kau … kau telah ….”
“Benar. Aku telah menangkap ikanmu itu, lalu aku goreng untuk lauk tadi malam. Nah aku sisakan tulang – tulangnya barangkali engkau juga berniat mencicipinya,” kata Bawang Merah tanpa merasa bersalah.
Bawang Putih dengan perasaan hancur membawa tulang-tulang ikan emas sahabatnya untuk dikubur di halaman rumah. Bawang Putih pun kini harus menjalani hari-hari berikutnya dalam kesendirian lagi.
Namun beberapa hari kemudian terjadilah keajaiban. Di kuburan ikan emas itu kini tumbuh tanaman bunga yang indah sekali. Bawang Putih menjadi sedikit terhibur dengan tumbuhnya pohon bunga itu.
Pada suatu pagi yang indah, mereka dikejutkan oleh datangnya seorang penunggang kuda. Putra mahkota kerajaan tiba-tiba telah berdiri di halaman rumah mereka.
“Aku singgah karena tertarik dengan tanaman bunga yang sangat indah ini. Siapakah yang menanamnya ?” bertanya Putra Mahkota kepada Bawang Merah dan Ibunya.
“Hambalah yang menanamnya, Pangeran,” jawab Bawang Merah cepat.
“Ya, Pangeran. Anakku Bawang Merah inilah yang menanamnya,” sambung Ibu Bawang Merah pula.
Mendengar jawaban Bawang Merah dan Ibunya itu, Putra Mahkota tidak menampakkan wajah gembira, sebaliknya menjadi marah.
“Kalian berdua memang benar-benar berhati jahat. Akulah ikan emas yang telah engkau bunuh itu. Kini kalian masih juga mengaku yang menanam bunga yang indah ini. Kalian akan menerima hukumannya !” tandas Putra Mahkota itu. Dan benar saja, begitu selesai mengucapkan kata-katanya itu, sekujur tubuh Bawang Merah dan Ibunya berubah menjadi bersisik. Mereka berubah menjadi manusia bersisik ikan.
Bawang Merah dan Ibunya yang merasa malu dengan keadaan dirinya segera berlari masuk ke hutan. Tinggallah Bawang Putih yang masih terpana menyaksikan peristiwa itu.
“Kemarilah, Bawang Putih. Akulah ikan emas itu. Aku berubah menjadi ikan karena sihir jahat musuh negaraku. Aku akan bisa pulik seperti sediakala kalau ada yang menangisi atas kematianku,” cerita Putra Mahkota itu. “Dan kaulah orangnya yang menangisi atas kematianku. Maka kini tiba saatnya engkau mendampingi aku memerintah kerajaanku,” lanjut Putra Mahkota lagi.
Dengan penuh rasa haru, Bawang Putih pun segera menyertai Putra Mahkota menuju ke istana.



cuplikan vidionya:



sumber:http://www.trub.us/2012/07/bawang-merah-dan-bawang-putih.html

Sabtu, 20 Desember 2014

Jaka Kendil

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang wanita dengan anak laki-lakinya. Anak itu mempunyai bentuk fisik yang aneh. Badannya mirip dengan periuk. Karena itulah orang menyebutkan Joko Kendil*.
Walaupun tubuh Joko tidak normal, ibunya mencintainya apa adanya. Ia juga tak pernah menyesali nasib anaknya. Apa pun yang diminta Joko, ia selalu berusaha mengabulkannya.
Joko tumbuh sebagai anak yang bahagia. Ia dikenal sebagai anak yang jenaka. Tapi kadang-kadang Joko juga nakal. Ia sering ke pasar, lalu ia duduk di dekat pedagang. Pedagang mengira, Joko itu sebuah periuk. Sehingga ia menaruh sebagian makanannya di atas tubuh Joko. Ia juga sering menyelinap ke pesta. Orang menyangka Joko itu periuk biasa, sehingga orang itu menaruh makanan di sana. Kemudian dengan diam-diam Joko pulang dan membawa makanan untuk ibunya.
Ibu Joko marah melihat kenakalan Joko. Ia menyangka Joko mencuri. Joko lalu menjelaskan, kalau semua orang menyangka dirinya periuk. Ibunya pun tertawa mendengarnya.
Ketika Joko tumbuh dewasa, tubuh Joko tetap mirip periuk. Tapi yang mengherankan, Joko justru meminta ibunya mencarikan istri untuknya. Tidak tanggung-tanggung, Joko menginginkan putri raja sebagai istrinya. Tentu saja Ibunya kaget sekali. “Ingat Joko, kita ini orang miskin. Lagi pula, apakah kau tidak menyadari bentuk tubuhmu?” tanya Ibunya. “Jangan khawatir, Ibu. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Sekali lagi, saya minta tolong, agar Ibu melamar putri raja untuk dijadikan istriku,” ujar Joko menghibur Ibunya.
Dengan hati penuh keraguan, Ibu Joko pergi menghadap Raja. Raja mempunyai tiga putri yang cantik. Ibu Joko mengungkapkan keinginan anaknya pada Raja. Raja sama sekali tidak marah mendengar penuturan Ibu Joko. Sebaliknya, Raja meneruskan lamaran itu pada ketiga putrinya.
Putri Sulung mengatakan, “Saya tak sudi, Ayahanda. Saya menginginkan suami yang kaya raya.” Putri Tengah mengatakan, “Suami yang saya inginkan? Seorang raja seperti Ayahanda.” Berbeda dengan ketiga kakaknya, Putri Bungsu justru menerima pinangan itu dengan senang hati. Raja sangat heran. Tapi karena Putri Bungsu sudah setuju, ia tak dapat mencegah pernikahan itu.
Sayangnya, Putri Bungsu selalu diejek kedua kakaknya. “Suamimu berjalan mirip bola menggelinding,” ejek Putri Sulung. “Suamimu mirip tempayan air,” ejek Putri Tengah. Putri Bungsu sedih. Tapi ia berusaha sabar dan tabah.
Suatu hari, Raja mengadakan lomba ketangkasan. Tapi Joko tidak bisa ikut. Ia mengatakan pada Raja, badannya sakit. Lomba ketangkasan itu diikuti banyak orang penting seperti para pangeran dan panglima. Mereka berlomba naik kuda dan menggunakan senjata. Tiba-tiba datang seorang ksatria gagah. Ia sangat tampan dan tangkas menggunakan senjata.
Putri Sulung dan Putri Tengah senang sekali melihatnya. Mereka jatuh cinta pada ksatria itu. Ia kembali mengejek adiknya, karena terburu-buru menikahi Joko Kendil.
Putri Bungsu pun berlari ke kamarnya sambil menangis. Di sana ia melihat sebuah kendi. Karena kesal, ia membanting kendi itu hingga berkeping-keping.
Ksatria gagah itu masuk ke dalam kamar Putri Bungsu. Ia mencari kendi, tapi kendi itu sudah hancur. Lalu ia melihat Putri Bungsu menangis tersedu-sedu. “Ada apa istriku?” tanyanya. Tentu saja Putri Bungsu kaget. Bukankah suaminya adalah Joko Kendil? Lalu ksatria itu menceritakan dirinya yang sebenarnya. Ia sebenarnya Joko Kendil, suaminya. Ia selama ini harus memakai pakaian dalam bentuk kendi. Tapi ia dapat kembali menjelma menjadi ksatria kalau seorang putri mau menikah dengannya.
Begitu tahu kalau ksatria tampan itu Joko Kendil, betapa menyesalnya Putri Sulung dan Putri Tengah. Sebaliknya dengan Putri Bungsu, ia menjadi sangat bahagia bersama Joko Kendil yang telah menjelma menjadi pria yang rupawan.
*Orang Jawa menyebut periuk = kendil.

 Cuplikan vidionya:


sumber: http://www.kumpulandongeng.com/cerita-legenda/cerita-legenda-rakyat-joko-kendil/

Rabu, 03 Desember 2014

Keong Mas





Akibat hendak di ambil paksa oleh Nyi Ireng, seorang penyihir Jahat.

Raja dan ratu merelakan Putri bungsunya dirubah menjadi Keong Mas oleh 7 Penyihir baik dan dititipkan ke seorang perempuan desa bernama “Mbok Rondo“.
Namun keadaan yang semula aman, berubah menjadi petaka, masalahnya Keong Mas mempunyai keistimewaan, yaitu, air matanya bisa berubah menjadi permata.
Hingga bisa merubah status sosial Mbok Rondo, yang semula Rakyat miskin biasa tiba tiba berubah menjadi Kaya Raya.

Hal inilah yang membuat Juragan Rekso menjadi Iri, dan berniat untuk menculik Keong mas, dengan harapan, dia bisa menjadi kaya melebihi Mbok Rondo.

Niatan Juragan Rekso memang berhasil namun, ketamakan akan harta dunia membuat dia kehilangan kendali.
Dia paksa, keong mas untuk menangis setiap hari, bahkan, Mbok Rondo yang menyimpan alat tenun tua tanpa jarum dilaporkan ke prajurit, membuat Mbok Rondo akhirnya di penjara.

Saat permata yang keluar dari mata keong mas makin banyak, Nyai Ireng yang kehilangan bayi perempuan milik Raja tahu, kalu yang air matanya jadi permata itu ternyata Keong mas, bayi yang dicarinya selama ini.

Di istananya, Keong mas Oleh Nyi Ireng dipaksa untuk menenun dengan harapan, tangannya segera tertusuk jaum, tak sadarkan diri, dengan begitu, ia bisa menyerahkan ke raksasa sebagai santapan, dengan harapan diberikan imbalan kekuatan.

Ternyata, memang sudah menjadi kepastian, bahwa kebaikan ternyata selalu bisa menang jika melawan kejahatan. Begitu juga dalam cerita ini, cinta kasih serta ketulusan dari Mbok Rondo kepada Keong Mas ternyata berhasil membinasakan Nyai Ireng juga raksasa.

Keong Mas hidup berbahagia di istana dengan membawa serta Mbok Rondo, perempuan desa yang selama ini merawatnya.

sumber: http://www.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5606&Itemid=60

Senin, 24 November 2014

Danau Toba

Pada zaman dahulu adalah seorang petani bernama Toba yang menyendiri di sebuah lembahyang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan ladang untuk keperluan hidupnya.Selain mengerjakan ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya karena disungai yang jernih itu memang banyak sekali ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang Toba langsung pergi ke sungai untuk memancing.Tetapi sudah cukup lama ia memancing tak seekor ikan pun didapatnya.Kejadian yang seperti itu,tidak pernah dialami sebelumnya. Sebab biasanya ikan di sungai itumudah saja dia pancing.
Karena sudah terlalu lama tak ada yang memakan umpan pancingnya,dia menjadi kesal dan memutuskan untuk berhenti memancing, Tetapi ketika dia hendak menarik  pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan dan menarik pancing itu jauh ketengah sungai.Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, Karena dia tahu bahwa ikan yangmenyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar. Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ke sana kemari, barulah pancing itu disentakkannya, dan tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan ituditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira sambil melepas mata pancingnya dari mulut ikan itu.Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuharti,setelah itu diletakkannya disuatu tempat dan Toba masuk ke dalam sungai untuk mandi.Perasaannya gembira sekali karena sebelumnya tidak pernah mendapat ikan sebesar itu danSambil tersenyum Dia membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudahdipanggang.

Hari sudah mulai senja Toba meninggalkan sungai untuk pulang, dan Setibanya dirumah Toba langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.Pada saat Toba tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar sudah raib alias hilang, tetapi bekas tempat ikan itu tadi terdapat beberapa keping uang emas. Toba terkejut dan merasa heranmengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan dapur dan masuk kekamar.Ketika Toba membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena didalam kamar itu berdiriseorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai , Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaatkemudian perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang Toba yang terlihat bingung dan sekaligus terpesona karena wajah perempuan itu luar biasa cantiknya.

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah Tobamenyalakan lampu, dia diajak perempuan itu menemaninya kedapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa diaadalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai.Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur ituadalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan itu menyatakan bersediamenerima lamarannya dengan syarat Toba harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal usul istrinya myang menjelma dari ikan. Setelah lelaki itu bersumpah demikian, kawinlah mereka.Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Samosir.Anak itu sngat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.Setelah cukup besar, anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksa ibunyayanng mengantarkan nasi ke ladang.Suatu hari, sang anak disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanyadia menolak, tetapi karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah sang anak mengantarkannasi itu , Di tengah jalan sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya diladang,sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada ayahnya. Saat menerimanya, si ayahsudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan, maka si ayah jadi sangatmarah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah sisa-sisa. Amarahnya makin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar dari nasinya itu.Kesabaran si ayah jadi hilang dan dia pukul anaknya sambil mengatakan: “Anak kurang ajar.Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!”Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya diamengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya dan mengadukan semua kata-kata cercaan yangdiucapkan ayahnya.

Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Siibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh darirumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukittersebut dan mendakinya.Ketika tampak oleh sang ibu anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yangdipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya darirumah mereka itu. Ketika dia tiba di tepi sungai itu kilat menyambar disertai bunyi guruh yangmegelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangatlebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap kemana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir.

Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang di kemudian hari dinamakan orang Danau Toba. Sedang Pulau kecil ditengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.




sumber: http://www.coolstuff.me/2013/01/cerita-rakyat-asal-usul-danau-toba.html

Minggu, 23 November 2014

Timun Mas


Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.


Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha…. kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”, teriak si raksasa.
Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak timun emas.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.
Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah disela

                                                                                    
sumber: http://dongeng.referensiana.com/2013/02/timun-mas.html

Sabtu, 22 November 2014

Tangkuban Prahu

Dahulu kala, tersebut lah sorang putri cantik anak dari seorang raja bernama Sungging Perbangkara dari sebuah kerajaan besar di jawa barat. Putri tersebut bernama Dayang Sumbi. Kecantikan Dayang Sumbi memang tidak terbantahkan. Banyak raja-raja dari kerajaan berperang hanya untuk menjadikan Dayang Sumbi sebagai istrinya. Merasa dirinya adalah sumber peperangan, akhirnya Dayang Sumbi memutuskan untuk pergi ke hutan dan hidup di sana.


Suatu ketika, ketika Dayang Sumbi sedang bertenun, pintalan benang yang dia gunakan jatuh. Karena malas mengambil pintalan benang tersebut, dia berkata "Siapa yang bisa mengambilkan pintalan benang tersebut, dia akan menjadi suami ku." Tiba-tiba seekor anjing mengambil pintalan benang tersebut dan memberikannya ke Dayang Sumbi. Anjing tersebut bernama Tumang. Anjing tersbut bukan ajing biasa, konon dia adalah keturunan Dewa. Karena telah berjanji, akhirnya Dayang Sumbi menjadikan Tumang sebagai suaminya dan dari pernikahannya mereka dikaruniahi seroang anak bernama Sangkuriang.

Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda berparas tampan, gagah perkasa dan sakti. Semasa hidupnya, dia selalu ditemani oleh Tumang yang dianggapnya hanya seekor anjing yang setia, bukan ayahnya. Suatu ketika, Sangkuriang dimintau untuk berburu dengan Tumang oleh ibunya, Dayang Sumbi.

“Bu, saya akan membawakan sebuah hati rusa untuk mu” janji Sangkuriang.
“Huff…huff” gonggong Tumang.
 "Baiklah nak, hati-hati ya." Dayang Sumbi berkata.


Sangkuriang dan Tumang mulai berburu seekor rusa. Setelah berburu seharian tanpa hasil, Sangkuriang kawatir akan membuat ibunya kecewa. Berpikir singkat, dia mengambil panahnya dan menembakannya ke arah Tumang dan mengambil hatinya kemudian membawanya pulang untuk diberikan ke pada ibunya.

Di rumah Sangkuriang memberikan hati tersebut kepada ibunya. Tetapi Dayang Sumbi menyadari bahwa itu bukan lah hati rusa tetapi hati anjing, Tumang. Dia marah dan memukul Sangkuriang dengan sendok di kepalanya.

Kemudian Sangkuriang berkeliling ke seluruh penjuru dunia hingga dia kembali tiba di desanya tanpa disadari nya. Di sana dia bertemu seorang wanita cantik yang sebenarnya adalah ibunya.

Sangkuriang dan wanita cantik itu saling jatuh cinta satu sama lain dan mereka memutuskan untuk menikah.
Tetapi Dayang Sumbi kemudian menyadari bahwa lelaki yang dia cintai adalah anaknya. Dia melihat ada bekas luka yang ada di kepala Sangkuriang. Untuk mengurungkan niat Sangkuriang menikahi nya, Dayang Sumbi kemudian meminta dua hal mustahil sebagai syarat pernikahannya.

“Jika kamu ingin menikahi ku, buatlah sebuah danau yang dan sebuah perahu sangat besar dalam satu malam” pinta Dayang Sumbi.
“Siap, jika kamu menginginkanya. Akan ku berikan apa yang kau minta.” Sangkuriang setuju.

Dengan kekuatannya yang sakti dan dengan bantuan makhluk halus, ke dua permintaan tersebut pun dirasa bisa terlaksana dalam satu malam. Sangkuriang pun membuat sebuah danau dengan membendung sungai citarum dan membuat sebuah perahu. Kawatir Sangkuriang akan menyelesaikanya, Dayng Sumbi berdoa kepada Tuhan agar membantunya untuk mengagalkan niat Sangkuriang. Tiba-tiba cahaya horizon dari timur muncul dan pagi pun datang.

Berpikir bahwa usahanya siasia. Dengan marah dia menendang perahu tersebut sehingga terbalik. Kemudia perhau tersebut menjadi sebuah gunung yang dikenal dengan nama Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban berarti terbalik dan Perahu berarti perahu.

Nah, amanat cerita Tangkuban Perahu di atas adalah jangan lah suka berbohong, apa lagi terhadap orang tua kita.

Semoga artikel di atas tentang Cerita Rakyat : Tangkuban Perahu bisa bermanfaat bagi sobat semua. Jika ada dari sobat yang menemukan kesalahan baik dari segi penulisan maupun pembahasan, mohon kritik dan sarannya untuk kemajuan bersama. Terima kasih ^ 



  




                              


sumber: http://www.zonasiswa.com/2014/01/cerita-rakyat-tangkuban-perahu.html

Jumat, 21 November 2014

Malin Kundang

Dahulu kala, tersebutlah sebuah keluarga miskin yang terdiri dari seorang ibu dan anaknya yang bernama Malin Kundang. Karena ayahnya telah meninggalkannya, sang ibu pun harus bekerja keras sendiri untuk bisa menghidupi keluarganya.

Malin adalah anak yang pintar tapi sedikit nakal. Ketika dia beranjak dewasa, Malin merasa kasihan pada ibunya yang sedari dulu bekerja keras menghidupinya. Kemudian Malin meminta izin untuk merantau mencari pekerjaan di kota besar.

“Bu, saya ingin pergi ke kota. Saya ingin kerja untuk bisa bantu ibu di sini.” pinta Malin.
“Jangan tinggalkan ibu sendiri, nak. Ibu hanya punya kamu di sini.” kata sang ibu menolak.
“Izinkan saya pergi, bu. Saya kasihan melihat ibu terus bekerja sampai sekarang.” kata Malin.
“Baiklah nak, tapi ingat jangan lupakan ibu dan desa ini ketika kamu sukses di sana” Ujar sang ibu berlinang ari mata.

Keesokan harinya Malin pergi ke kota besar dengan menggunakan sebuah kapal. Setelah beberapa tahun bekerja keras, dia berhasil di kota rantauannya. Malin sekarang menjadi orang kaya yang bahkan mempunyai banyak kapal dagang. Dan Malin pun sudah menikah dengan wanita cantik di sana. Berita tentang Malin yang menjadi orang kaya sampai lah ke ibunya. Sang ibu sangat senang mendengarnya. Dia selalu menunggu di pantai setiap hari, berharap anak si mata wayangnya kembali dan mengangkat drajat ibunya. Tetapi Malin tak pernah datang.

Suatu hari istiri Malin bertanya mengenai ibu Malin dan ingin bertemu dengan nya. Malin pun tidak bisa menolak keinginan istri yang sangat dicintainya itu. Malin menyiapkan perjalanannya tersebut menuju desanya menggunakan sebuah kapal pribadinya yang besar nan cantik. Akhirnya Malin pun datang ke desanya beserta istri dan anak buahnya.

Mendengar kedatangan Malin, sang ibu merasa sangat gembira. Dia bahkan berlari menuju pantai untuk segera melihat anak yang disayanginya pulang.

“Apa itu kamu Malin, anak ku? Ini ibu mu, kamu ingat” Tanya sang Ibu.
"Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirim kabar?" Katanya sambil memeluk Malin Kundang.

Sang istri yang terkejut melihat kenyataan bahwa wanita tua, bau, dekil yang memeluk suaminya, berkata:
"Jadi wanita tua, bau, dekil ini adalah ibu kamu, Malin"

Karena rasa malu, Malin Kundang pun segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga jatuh.
“Saya tidak kenal kamu wanita tua miskin” kata Malin.
"Dasar wanita tua tak tahu diri, Sembarang saja mengaku sebagai ibuku." Lanjut Malin membentak.

Mendengar perkataan anak kandungnya seperti itu, sang ibu merasa sedih dan marah. Ia tidak menduga, anak yang sangat disayanginya berubah menjadi anak durhaka.
"Oh Tuhan ku yang kuasa, jika dia adalah benar anak ku, Saya mohon berikan azab padanya dan rubah lah dia jadi batu." doa sang ibu murka.

Tidak lama kemudian angin dan petir bergemuruh menghantam dan menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu, Tubuh Malin Kundang kaku dan kemudian menjadi batu yang menyatu dengan karang.

Amanat: Jadilah orang yang berbakti pada orang tua. Dan janganlah sekali-kali durhaka padanya.

Semoga Cerita Rakyat Malin Kundang di atas bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua. Dan jika dari pembaca sekalian menemukan kesalahan baik dari segi penulisan maupun pembahasan dalam artikel di atas, kami membuka kritik dan saran. Terima kasih ^^
    
                                     
sumber: http://www.zonasiswa.com/2014/01/cerita-rakyat-malin-kundang-si-anak.html

Sabtu, 15 November 2014

Roro Jongrang

Kisah yang berkembang menyebutkan bahwa dulu ada seorang pangeran bernama Raden Bandung Bondowoso. Pangeran ini adalah putra dari Raja Pengging yang bernama Prabu Damar Moyo. Bandung Bondowoso dikenal sebagai pangeran yang punya kesaktian mumpuni.
Sementara di kerajaan lain, ada keraton bernama Keraton Boko dipimpin oleh Prabu Boko. Prabu Boko memiliki anak yaitu Roro Jonggrang yang cantik jelita. Di kerajaan Boko ada pula seorang Patih yang bernama Patih Gupolo.

Kisah berlanjut dengan ekspansi kerajaan Boko dipimpin Patih Gupolo ke wilayah Pengging. Perang pun terjadi antar dua kerajaan tersebut, yang berakibat Prabu Boko mati dibunuh oleh Bandung Bondowoso.
Karena terdesak, maka Patih Gupolo pun mundur ke istana, dan melapor pada Roro Jonggrang bahwa ayahnya sudah mati dibunuh Bandung Bondowoso.
Bandung Bondowoso yang mengejar pasukan Patih Gupolo pun akhirnya sampai ke istana Boko. Disana, dirinya melihat kecantikan Roro Jonggrang, dan seketika terpesona. Ia pun lantas melamar sang putri untuk dijadikan istri.
Roro Jonggrang yang mengetahui bahwa Bandung adalah pembunuh ayahnya, mengajukan syarat yang sangat sulit bagi Bandung, jika memang berniat memperistri dirinya. Yaitu Bandung harus bisa membangun sebuah sumur dan juga seribu candi dalam waktu 1 malam saja.
Jika Bandung Bondowoso mampu, maka dirinya akan bersedia menikah dengan Bandung. Karena kesaktiannya, Bandung pun menyetujui syarat tersebut.
Ia lalu mulai bekerja dan membuat sebuah sumur yang dinamakan sumur Jalatunda. Lalu dengan bantuan kalangan jin dan makhluk halus, Bandung mulai membangun candi di malam hari.
Sifat jin dan makhluk halus yang kuat membuat pembangunan menjadi lebih cepat. Ini membuat Roro Jonggrang khawatir. Bangunan candi mulai berdiri dengan jumah banyak. Hingga sampai jumlah mendekati seribu, dirinya lantas membuat keributan dengan menumbuk padi dan membakar jerami agar mengesankan hari sudah pagi.
Karena keributan aktifitas manusia itu, maka para jin pun lari karena mengira hari sudah menjelang pagi. Pembangunan candi belum usai, dan baru berjumlah 999 candi.
Karena kesal dengan kecurangan Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso pun mengubah Roro Jonggrang menjadi arca untuk candi ke 1000. Hingga kini arca Dewi Durga masih ada di candi Prambanan.
                      


                                                                     
sumber:http://sidomi.com/312124/mengenal-roro-jonggrang-putri-yang-dikutuk-menjadi-arca-di-candi-prambanan/