Minggu, 21 Desember 2014

Bawang Merah dan Bawang Putih

Bawang Putih adalah seorang gadis yatim piatu. Dia tinggal di sebuah desa kecil bersama dengan Ibu tirinya yang juga mempunyai anak sebaya dengan dirinya, Bawang Merah nama anak Ibu tirinya itu.
Berbeda dengan Bawang Merah yang setiap hari kerjanya hanya bermalas-malasan dan bersolek saja, Bawang Putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dari pagi hingga petang.
Pagi-pagi sekali setelah menanak nasi dan merebus air, Bawang Putih sudah harus berlari-lari kecil menuju ke sungai dengan cucian yang bertumpuk-tumpuk. Selepas itu Bawang Putih masih harus mengumpulkan ranting-ranting kayu untuk bahan  bakar. Namun Bawang Putih tak pernah mengeluh. Dia  hanya selalu berharap, kelak Sang Pencipta akan mengirim seorang penolong untuk dirinya.
Permohonannya yang sungguh-sungguh mendapatkan jawaban dari Sang Pencipta. Di sungai tempat Bawang Putih biasa mencuci tiba-tiba muncul seekor ikan emas. Dan keajaiban pun terjadi, setiap kali Bawang Putih mencelupkan pakaian-pakaian kotor itu ke dalam air, seketika itu juga pakaian itu menjadi bersih.
Bawang Putih pun menjadi sangat bersyukur dengan kehadiran ikan emas ajaib itu. Kini dia tak lagi harus mengeluarkan tenaga banyak untuk menyelesaikan cuciannya. Namun yang lebih menggembirakan, Bawang Putih merasa tidak kesepian lagi dengan hadirnya ikan emas itu. Bawang Putih menjadikan ikan emas itu sebagai sahabat dan tempatnya berkeluh kesah.
Bawang Putih kadang sering merasa heran karena setiap kali mengajak bicara, ikan emas itu seperti mengerti semua yang dikatakannya.
“Aku tidak tahu apakah kamu bisa mengerti atau tidak semua kata-kataku, yang pasti aku sangat berterima kasih kepadamu,” berkata Bawang Putih penuh perasaan.
Namun kebahagiaan Bawang Putih tidak berlangsung lama. Diam-diam Bawang Merah dan Ibu tirinya yang merasa curiga karena Bawang Putih dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, menguntit Bawang Putih ke sungai.
“Oh, jadi ikan emas itu yang selama ini membantu Bawang Putih. Hem, akan aku buat kamu menderita Bawang Putih !” ancam Bawang Merah dan Ibunya.
Ancaman mereka berdua benar-benar diwujudkan. Keesokan harinya ketika pag-pagi Bawang Putih datang ke sungai, dia tak menemukan lagi sahabatnya ikan emas. Dengan panik Bawang Putih mencari kesana-kemari di sepanjang sungai. Namun sampai lelah mencari dan suaranya pun nyaris habis, ikan emas tetap tak dapart ditemukan.
“Kamu mencari ikan emas temanmu itu ? Dia ada di sini,” berkata Bawang Merah yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Be … benarkah ? Dimanakah dia ?” tanya Bawang Putih penuh harap.
“Ini temanmu ikan emas, aku bawa,” tiba-tiba ibunya juga muncul dari balik pohon sambil menyerahkan bungkusan.
Bawang Putih seakan tak percaya memandangi isi bungkusan kecil yang berisi tulang belulang ikan emas itu.
“Kau … kau telah ….”
“Benar. Aku telah menangkap ikanmu itu, lalu aku goreng untuk lauk tadi malam. Nah aku sisakan tulang – tulangnya barangkali engkau juga berniat mencicipinya,” kata Bawang Merah tanpa merasa bersalah.
Bawang Putih dengan perasaan hancur membawa tulang-tulang ikan emas sahabatnya untuk dikubur di halaman rumah. Bawang Putih pun kini harus menjalani hari-hari berikutnya dalam kesendirian lagi.
Namun beberapa hari kemudian terjadilah keajaiban. Di kuburan ikan emas itu kini tumbuh tanaman bunga yang indah sekali. Bawang Putih menjadi sedikit terhibur dengan tumbuhnya pohon bunga itu.
Pada suatu pagi yang indah, mereka dikejutkan oleh datangnya seorang penunggang kuda. Putra mahkota kerajaan tiba-tiba telah berdiri di halaman rumah mereka.
“Aku singgah karena tertarik dengan tanaman bunga yang sangat indah ini. Siapakah yang menanamnya ?” bertanya Putra Mahkota kepada Bawang Merah dan Ibunya.
“Hambalah yang menanamnya, Pangeran,” jawab Bawang Merah cepat.
“Ya, Pangeran. Anakku Bawang Merah inilah yang menanamnya,” sambung Ibu Bawang Merah pula.
Mendengar jawaban Bawang Merah dan Ibunya itu, Putra Mahkota tidak menampakkan wajah gembira, sebaliknya menjadi marah.
“Kalian berdua memang benar-benar berhati jahat. Akulah ikan emas yang telah engkau bunuh itu. Kini kalian masih juga mengaku yang menanam bunga yang indah ini. Kalian akan menerima hukumannya !” tandas Putra Mahkota itu. Dan benar saja, begitu selesai mengucapkan kata-katanya itu, sekujur tubuh Bawang Merah dan Ibunya berubah menjadi bersisik. Mereka berubah menjadi manusia bersisik ikan.
Bawang Merah dan Ibunya yang merasa malu dengan keadaan dirinya segera berlari masuk ke hutan. Tinggallah Bawang Putih yang masih terpana menyaksikan peristiwa itu.
“Kemarilah, Bawang Putih. Akulah ikan emas itu. Aku berubah menjadi ikan karena sihir jahat musuh negaraku. Aku akan bisa pulik seperti sediakala kalau ada yang menangisi atas kematianku,” cerita Putra Mahkota itu. “Dan kaulah orangnya yang menangisi atas kematianku. Maka kini tiba saatnya engkau mendampingi aku memerintah kerajaanku,” lanjut Putra Mahkota lagi.
Dengan penuh rasa haru, Bawang Putih pun segera menyertai Putra Mahkota menuju ke istana.



cuplikan vidionya:



sumber:http://www.trub.us/2012/07/bawang-merah-dan-bawang-putih.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar