Selasa, 23 Desember 2014

Asal Usul Kota Surabaya

Menurut legenda, nama Kota Surabaya, Ibu Kota Propinsi Jawa Timur, berasal dari gabungan kata Sura yang merupakan nama seekor ikan hiu besar dan Baya yang merupakan nama seekor buaya besar. Berikut ini sejarah singkat mengenai asal usul nama Surabaya.
Alkisah pada zaman dahulu hidup seekor buaya besar bernama Baya. Ia mempunyai musuh bebuyutan seekor ikan hiu besar bernama Sura. Hampir setiap hari keduanya berkelahi. Karena sama-sama kuat, tangguh, dan tangkas, tidak ada yang menang maupun kalah. Jika keduanya tengah berkelahi, perairan di sekitarnya akan menjadi bergelombang besar dan keruh. Hewan-hewan yang hidup disekitar mereka merasa terganggu dan berusaha untuk mendamaikan keduanya. Namun Sura dan Baya terus saja bermusuhan dan berkelahi.

Permusuhan Antara Sura Dan Baya

Sampai pada titik tertentu, keduanya merasa kelelahan dengan permusuhan itu. Akhirnya Sura dan Baya sepakat untuk menghentikan permusuhan mereka, setidaknya untuk sementara waktu. “Baya, aku mulai lelah dengan permusuhan kita. Hampir tiap hari kita berkelahi dan tidak ada yang menang maupun kalah. Bagaimana kalau kita membagi wilayah kekuasaan dan menghentikan permusuhan kita?” kata Sura pada Baya.
“Boleh saja. Aku juga sudah lelah dengan permusuhan ini. Bagaimana aturan pembagian wilayah kekuasaan ini?” tanya Baya.
“Batas wilayah kita adalah daerah dimana air mencapainya di waktu laut pasang. Aku menguasai perairan dan Engkau menguasai daratan. Semua mangsa di laut menjadi bagianku, begitu juga semua mangsa di darat menjadi bagianmu.” kata Sura.
“Cukup adil. Baiklah kalau begitu Aku setuju.” kata Baya.
Akhirnya tercapailah persetujuan antara Sura dan Baya. Sejak saat itu mereka sudah tidak lagi berkelahi memperebutkan daerah kekuasaan. Masing-masing menguasai daerah kekuasaannya.
Tapi sayang perdamaian diantara keduanya tidak berlangsung lama. Sura mulai melanggar peraturan yang ia ajukan sendiri. Ia tidak saja mencari makan di daerah kekuasaannya di laut, tapi ia juga mencari mangsa di daerah kekuasaan Baya yaitu di sungai. Hal itu ia lakukan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh Baya. Tapi lambat laun Baya mulai mengetahui kecurangan yang dilakukan Sura.
Suatu ketika Baya melihat Sura tengah mencari mangsa di daerah kekuasaannya di sungai. Dengan marah Baya mendekati Sura dan memarahinya. “Hai Sura! Mengapa engkau berlaku curang dengan mencari mangsa di daerah kekuasaanku? Bukankah engaku sendiri yang membuat peraturan wilayah kekuasaan ini?” kata Baya dengan marah.
Sura nampaknya tidak mau mengakui kecurangannya dan mengatakan bahwa ia tidak melanggar perjanjian. “Apa katamu Baya? Aku melanggar perjanjian? Aku tidak melanggar wilayah kekuasaanmu. Kan sudah Aku bilang, kalau Aku menguasai wilayah perairan dan engkau menguasai wilayah daratan. Jadi apa salah jika aku mencari mangsa di sungai?’ kata Sura tidak mau kalah.
Baya merasa Sura hanya mencari-cari alasan. “Hai Sura! Kau hanya mencari-cari alasan agar bisa mencari mangsa di daerah kekuasaanku. Sekarang perjanjian diantara kita telah berakhir karena Engkau melanggarnya. Mari kita bertarung! Siapa yang menang maka dia menjadi penguasa baik di daratan maupun di perairan!” Baya menantang Sura.
“Baiklah mari kita bertarung untuk menentukan siapa yang terkuat diantara kita.” teriak Sura.

Pertarungan Hebat Sura Dan Baya

Mereka berdua akhirnya kembali bertarung dengan hebatnya. Keduanya saling menggigit tubuh lawannya dengan gigi runcingnya. Sura menggigit ekor Baya sementara Baya juga mengigit ekor Sura hingga hampir putus. Sura merasa kesakitan karena ekornya hampir putus oleh gigitan Sura yang bergigi sangat tajam dan kuat. Karena tidak tahan, akhirnya Sura berenang kembali ke laut. Sementara ekor Baya terluka parah karena gigitan Sura, yang mengakibatkan ekornya selalu membelok ke kiri. Namun Baya merasa senang karena telah memenangkan pertandingan tersebut. Sura telah kembali ke laut karena ekornya terluka parah.

Sura Dan Baya Menjadi Asal Usul Nama Surabaya

Perkelahian antara Sura dan Baya tersebut disaksikan oleh warga sekitar. Warga merasa takjub dengan dahsyatnya perkelahian tersebut. Akhirnya warga memberi nama tempat mereka tinggal dengan paduan nama Sura dan Baya, yakni Surabaya. Begitulah menurut cerita rakyat mengenai asal usul nama Surabaya. Hingga kini Surabaya menjadi ibukota Propinsi Jawa Timur dan merupakan salah satu kota besar di Indonesia.

cuplikanvidionya:
gambar/icon kotasurabaya:

  SUMBeER:budaya-indonesia.org/Asal-Usul-Nama-Surabaya/











Senin, 22 Desember 2014

Lutung Kasarung

Diceritakan terdapat seorang raja bernama Prabu Tapa Agung telah memimpin sebuah kerajaan di Jawa Barat untuk waktu yang lama. Dia sudah tua dan karena itu ingin memilih penggantinya. Tapi sayangnya, ia tidak memiliki putra. Dia berpikir untuk memilih salah satu putrinya, Purbararang dan Purbasari. Tapi itu bukan pilihan yang mudah. Mereka berdua sangat cantik dan cerdas. Satu-satunya perbedaan adalah temperamen mereka. Purbararang kasar dan tidak jujur​​, sedangkan Purbasari adalah baik dan peduli. Dengan pertimbangan tersebut, Prabu Tapa Agung akhirnya memilih Purbasari menjadi penggantinya.

Purbararang tidak setuju dengan keputusan ayahnya. "Ini seharusnya miliki ku, Ayah. Aku anak perempuan tertua "kata! Purbararang. Prabu Tapa Agung tersenyum. "Purbararang, untuk menjadi seorang ratu bukanlah hal mengenai usia. Ada banyak kualitas lain yang kita harus miliki, "jelas Prabu Tapa Agung bijaksana. "Apa Purbasari memiliki yang saya tidak?" Cemberut Purbararang. "kamu akan mengetahui ketika Purbasari telah menggantikan ku," jawab Prabu Tapa Agung.

Setelah perdebatan tersebut, Purbararang kembali ke kamarnya. "Apakah ada sesuatu yang salah?" Tanya Indrajaya. Indrajaya adalah calon suami Purbararang. "Saya kesal! Ayah memilih Purbasari sebagai penggantinya dan bukan aku! Aku harus melakukan sesuatu! "Kata Purbararang. Gila karena kemarahannya, dia datang ke penyihir dan memintanya untuk mengirim ruam ke seluruh tubuh Purbasari. Sebelum tidur, Purbasari mulai merasa gatal di seluruh tubuhnya. Dia mencoba menggunakan bedak ke tubuhnya, tapi itu tidak ada gunanya. Sebaliknya, gatalnya bahkan lebih buruk. Dia tidak ingin menggaruknya, tapi dia tidak bisa menahannya. Pada pagi berikutnya, terdapat tanda bekas cakaran di seluruh tubuh Purbasari itu. "Apa yang terjadi padamu?" Tanya Purbararang, pura-pura prihatin. "Saya tidak tahu, kak. Tadi malam, tubuh saya tiba-tiba merasa sangat gatal. Saya menggaruk dan terus menggaruk, dan ini adalah apa yang terjadi, "jawab Purbasari. Purbararang menggeleng. "Kamu pasti telah melakukan sesuatu yang sangat mengerikan. Kamu telah dihukum oleh para dewa! "

Hari itu, seluruh kerajaan itu terkejut. "Apa yang telah kamu lakukan, Purbasari?" tanya Prabu Tapa Agung. Purbasari menggeleng. "Aku tidak melakukan apa pun yang akan membuat marah para dewa, Ayah," jawabnya. "Lalu bagaimana kamu menjelaskan apa yang terjadi pada tubuh kamu?" Tanya Prabu Tapa Agung lagi. "Jika kamu tidak mengaku, aku akan mengusir kamu ke hutan." Purbasari mengambil napas panjang. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak melakukan sesuatu yang salah. Dan aku lebih suka dilemparkan ke hutan daripada mengakui perbuatan yang saya tidak lakukan. "

Setelah diskusi singkat dengan penasihat, Prabu Tapa Agung memerintahkan Purbasari untuk dipindahkan ke hutan. Purbasari sangat sedih, tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menentang perintah ayahnya. Dia didampingi oleh seorang utusan untuk pergi ke hutan .Utusan tersebut membangun sebuah gubuk sederhana untuk Purbasari. Setelah utusan tersebut pulang, tiba-tiba seekor monyet hitam datang ke pondok Purbasari. Dia membawa setandan pisang. Dari belakangnya, beberapa hewan menyaksikannya. "Apakah pisang tersebut untuk saya?" Tanya Purbasari. Monyet hitam mengangguk, seolah-olah ia mengerti apa yang Purbasari katakan. Purbasari mengambil pisang dengan senang hati. Dia juga mengatakan terima kasih. Hewan-hewan lain yang sedang melihatnya juga tampak tersenyum. "Apakah kamu bersedia menjadi teman ku?" Tanya Purbasari kepada mereka. Semua binatang mengangguk gembira. Meskipun dia tinggal sendirian di hutan, Purbasari tidak pernah kekurangan makanan. Setiap hari, selalu ada hewan yang membawa buah-buahan dan ikan untuk dimakan.

Waktu yang lama telah berlalu sejak Purbasari dibuang ke hutan, tapi tubuhnya masih gatal. Pada beberapa tempat, kulitnya bahkan sudah memborok. Apa yang harus saya lakukan? "Purbasari mendesah. Monyet yang duduk di sebelahnya tetap diam, ada air mata di matanya. Dia berharap Purbasari akan tetap sabar dan kuat.
 
Suatu malam, pada bulan purnama, monyet tersebut membawa Purbasari ke sebuah lembah. Ada sebuah kolam dengan air panas. Monyet tiba-tiba berbicara, "Air kolam ini akan menyembuhkan kulit mu," katanya. Purbasari terkejut, "kamu bisa bicara? Siapa kamu? "Tanyanya. "Kamu akan tahu, pada waktunya," kata monyet tersebut. Purbasari tidak mau memaksa monyet. Dia kemudian berjalan ke kolam. Ia mandi di sana. Setelah beberapa jam, Purbasari keluar dari kolam. Dia terkejut melihat wajahnya yang tercermin pada air kolam yang jernih tersebut. Wajahnya cantik lagi, dengan kulit halus dan bersih. Purbasari mengamati seluruh tubuhnya. Tidak ada jejak dari setiap penyakit kulit. "Saya sembuh! Saya sembuh "teriak Purbasari dalam sukacita. Dia lekas berterimakasih kepada para dewa dan juga untuk monyet tersebut.
 
Kabar mengenai kondisi Purbasari dengan cepat menyebar ke kerajaan, membuat jengkel Purbararang. Dia kemudian ditemani oleh Indrajaya pergi ke hutan untuk melihat Purbasari. Purbasari bertanya apakah dia akan diizinkan pulang. Purbararang mengatakan bahwa dia akan membiarkan Purbasari kembali ke istana jika rambut Purbasari lebih panjang dari miliknya. Purbararang kemudian membiarkan rambutnya jatuh. Rambut itu sangat panjang, hampir menyentuh tanah. Tapi ternyata rambut Purbasari dua kali lebih panjang dari pada rambutnya Purbararang.
 
"Baik, jadi rambut kamu lebih panjang dari pada milikku." Purbararang mengakui. "Tapi ada satu kondisi yang kamu harus penuhi, apakah kamu memiliki calon suami yang lebih tampan dari pada milik ku" Kata Purbararang sambil berjalan menuju Indrajaya. Purbasari merasa sengsara. Dia belum memiliki calon suami. Jadi, tanpa berpikir panjang, ia menarik monyet hitam di sampingnya.
 
Purbararang dan Indrajaya tertawa, tapi tawa mereka tidak berlangsung lama. Monyet tersebut kemudian bermeditasi dan tiba-tiba berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan, lebih tampan dari pada Indrajaya. "Saya seorang pangeran dari kerajaan yang jauh. Saya dikutuk menjadi monyet karena kesalahan yang saya perbuat. Saya bisa mendapatkan kembali bentuk saya yang sebenarnya hanya jika ada seorang gadis yang bersedia menjadi istriku, "kata pria muda tersebut.
 
Akhirnya, Purbararang menyerah. Dia menerima Purbasari sebagai ratu, dan juga mengakui semua yang telah ia lakukan. "Maafkan saya. Jangan hukum saya, "kata Purbararang, meminta pengampunan. Bukannya marah, Purbasari tersenyum. "Aku memaafkanmu, kak," katanya. Segera setelah itu, Purbasari menjadi ratu. Di sampingnya adalah pangeran tampan, mantan monyet yang dikenal sebagai Lutung Kasarung.

 cuplikan vidionya:



Sumber: http://www.zonasiswa.com/2014/02/cerita-rakyat-lutung-kasarung-lutung.html

Minggu, 21 Desember 2014

Bawang Merah dan Bawang Putih

Bawang Putih adalah seorang gadis yatim piatu. Dia tinggal di sebuah desa kecil bersama dengan Ibu tirinya yang juga mempunyai anak sebaya dengan dirinya, Bawang Merah nama anak Ibu tirinya itu.
Berbeda dengan Bawang Merah yang setiap hari kerjanya hanya bermalas-malasan dan bersolek saja, Bawang Putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dari pagi hingga petang.
Pagi-pagi sekali setelah menanak nasi dan merebus air, Bawang Putih sudah harus berlari-lari kecil menuju ke sungai dengan cucian yang bertumpuk-tumpuk. Selepas itu Bawang Putih masih harus mengumpulkan ranting-ranting kayu untuk bahan  bakar. Namun Bawang Putih tak pernah mengeluh. Dia  hanya selalu berharap, kelak Sang Pencipta akan mengirim seorang penolong untuk dirinya.
Permohonannya yang sungguh-sungguh mendapatkan jawaban dari Sang Pencipta. Di sungai tempat Bawang Putih biasa mencuci tiba-tiba muncul seekor ikan emas. Dan keajaiban pun terjadi, setiap kali Bawang Putih mencelupkan pakaian-pakaian kotor itu ke dalam air, seketika itu juga pakaian itu menjadi bersih.
Bawang Putih pun menjadi sangat bersyukur dengan kehadiran ikan emas ajaib itu. Kini dia tak lagi harus mengeluarkan tenaga banyak untuk menyelesaikan cuciannya. Namun yang lebih menggembirakan, Bawang Putih merasa tidak kesepian lagi dengan hadirnya ikan emas itu. Bawang Putih menjadikan ikan emas itu sebagai sahabat dan tempatnya berkeluh kesah.
Bawang Putih kadang sering merasa heran karena setiap kali mengajak bicara, ikan emas itu seperti mengerti semua yang dikatakannya.
“Aku tidak tahu apakah kamu bisa mengerti atau tidak semua kata-kataku, yang pasti aku sangat berterima kasih kepadamu,” berkata Bawang Putih penuh perasaan.
Namun kebahagiaan Bawang Putih tidak berlangsung lama. Diam-diam Bawang Merah dan Ibu tirinya yang merasa curiga karena Bawang Putih dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, menguntit Bawang Putih ke sungai.
“Oh, jadi ikan emas itu yang selama ini membantu Bawang Putih. Hem, akan aku buat kamu menderita Bawang Putih !” ancam Bawang Merah dan Ibunya.
Ancaman mereka berdua benar-benar diwujudkan. Keesokan harinya ketika pag-pagi Bawang Putih datang ke sungai, dia tak menemukan lagi sahabatnya ikan emas. Dengan panik Bawang Putih mencari kesana-kemari di sepanjang sungai. Namun sampai lelah mencari dan suaranya pun nyaris habis, ikan emas tetap tak dapart ditemukan.
“Kamu mencari ikan emas temanmu itu ? Dia ada di sini,” berkata Bawang Merah yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Be … benarkah ? Dimanakah dia ?” tanya Bawang Putih penuh harap.
“Ini temanmu ikan emas, aku bawa,” tiba-tiba ibunya juga muncul dari balik pohon sambil menyerahkan bungkusan.
Bawang Putih seakan tak percaya memandangi isi bungkusan kecil yang berisi tulang belulang ikan emas itu.
“Kau … kau telah ….”
“Benar. Aku telah menangkap ikanmu itu, lalu aku goreng untuk lauk tadi malam. Nah aku sisakan tulang – tulangnya barangkali engkau juga berniat mencicipinya,” kata Bawang Merah tanpa merasa bersalah.
Bawang Putih dengan perasaan hancur membawa tulang-tulang ikan emas sahabatnya untuk dikubur di halaman rumah. Bawang Putih pun kini harus menjalani hari-hari berikutnya dalam kesendirian lagi.
Namun beberapa hari kemudian terjadilah keajaiban. Di kuburan ikan emas itu kini tumbuh tanaman bunga yang indah sekali. Bawang Putih menjadi sedikit terhibur dengan tumbuhnya pohon bunga itu.
Pada suatu pagi yang indah, mereka dikejutkan oleh datangnya seorang penunggang kuda. Putra mahkota kerajaan tiba-tiba telah berdiri di halaman rumah mereka.
“Aku singgah karena tertarik dengan tanaman bunga yang sangat indah ini. Siapakah yang menanamnya ?” bertanya Putra Mahkota kepada Bawang Merah dan Ibunya.
“Hambalah yang menanamnya, Pangeran,” jawab Bawang Merah cepat.
“Ya, Pangeran. Anakku Bawang Merah inilah yang menanamnya,” sambung Ibu Bawang Merah pula.
Mendengar jawaban Bawang Merah dan Ibunya itu, Putra Mahkota tidak menampakkan wajah gembira, sebaliknya menjadi marah.
“Kalian berdua memang benar-benar berhati jahat. Akulah ikan emas yang telah engkau bunuh itu. Kini kalian masih juga mengaku yang menanam bunga yang indah ini. Kalian akan menerima hukumannya !” tandas Putra Mahkota itu. Dan benar saja, begitu selesai mengucapkan kata-katanya itu, sekujur tubuh Bawang Merah dan Ibunya berubah menjadi bersisik. Mereka berubah menjadi manusia bersisik ikan.
Bawang Merah dan Ibunya yang merasa malu dengan keadaan dirinya segera berlari masuk ke hutan. Tinggallah Bawang Putih yang masih terpana menyaksikan peristiwa itu.
“Kemarilah, Bawang Putih. Akulah ikan emas itu. Aku berubah menjadi ikan karena sihir jahat musuh negaraku. Aku akan bisa pulik seperti sediakala kalau ada yang menangisi atas kematianku,” cerita Putra Mahkota itu. “Dan kaulah orangnya yang menangisi atas kematianku. Maka kini tiba saatnya engkau mendampingi aku memerintah kerajaanku,” lanjut Putra Mahkota lagi.
Dengan penuh rasa haru, Bawang Putih pun segera menyertai Putra Mahkota menuju ke istana.



cuplikan vidionya:



sumber:http://www.trub.us/2012/07/bawang-merah-dan-bawang-putih.html

Sabtu, 20 Desember 2014

Jaka Kendil

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang wanita dengan anak laki-lakinya. Anak itu mempunyai bentuk fisik yang aneh. Badannya mirip dengan periuk. Karena itulah orang menyebutkan Joko Kendil*.
Walaupun tubuh Joko tidak normal, ibunya mencintainya apa adanya. Ia juga tak pernah menyesali nasib anaknya. Apa pun yang diminta Joko, ia selalu berusaha mengabulkannya.
Joko tumbuh sebagai anak yang bahagia. Ia dikenal sebagai anak yang jenaka. Tapi kadang-kadang Joko juga nakal. Ia sering ke pasar, lalu ia duduk di dekat pedagang. Pedagang mengira, Joko itu sebuah periuk. Sehingga ia menaruh sebagian makanannya di atas tubuh Joko. Ia juga sering menyelinap ke pesta. Orang menyangka Joko itu periuk biasa, sehingga orang itu menaruh makanan di sana. Kemudian dengan diam-diam Joko pulang dan membawa makanan untuk ibunya.
Ibu Joko marah melihat kenakalan Joko. Ia menyangka Joko mencuri. Joko lalu menjelaskan, kalau semua orang menyangka dirinya periuk. Ibunya pun tertawa mendengarnya.
Ketika Joko tumbuh dewasa, tubuh Joko tetap mirip periuk. Tapi yang mengherankan, Joko justru meminta ibunya mencarikan istri untuknya. Tidak tanggung-tanggung, Joko menginginkan putri raja sebagai istrinya. Tentu saja Ibunya kaget sekali. “Ingat Joko, kita ini orang miskin. Lagi pula, apakah kau tidak menyadari bentuk tubuhmu?” tanya Ibunya. “Jangan khawatir, Ibu. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Sekali lagi, saya minta tolong, agar Ibu melamar putri raja untuk dijadikan istriku,” ujar Joko menghibur Ibunya.
Dengan hati penuh keraguan, Ibu Joko pergi menghadap Raja. Raja mempunyai tiga putri yang cantik. Ibu Joko mengungkapkan keinginan anaknya pada Raja. Raja sama sekali tidak marah mendengar penuturan Ibu Joko. Sebaliknya, Raja meneruskan lamaran itu pada ketiga putrinya.
Putri Sulung mengatakan, “Saya tak sudi, Ayahanda. Saya menginginkan suami yang kaya raya.” Putri Tengah mengatakan, “Suami yang saya inginkan? Seorang raja seperti Ayahanda.” Berbeda dengan ketiga kakaknya, Putri Bungsu justru menerima pinangan itu dengan senang hati. Raja sangat heran. Tapi karena Putri Bungsu sudah setuju, ia tak dapat mencegah pernikahan itu.
Sayangnya, Putri Bungsu selalu diejek kedua kakaknya. “Suamimu berjalan mirip bola menggelinding,” ejek Putri Sulung. “Suamimu mirip tempayan air,” ejek Putri Tengah. Putri Bungsu sedih. Tapi ia berusaha sabar dan tabah.
Suatu hari, Raja mengadakan lomba ketangkasan. Tapi Joko tidak bisa ikut. Ia mengatakan pada Raja, badannya sakit. Lomba ketangkasan itu diikuti banyak orang penting seperti para pangeran dan panglima. Mereka berlomba naik kuda dan menggunakan senjata. Tiba-tiba datang seorang ksatria gagah. Ia sangat tampan dan tangkas menggunakan senjata.
Putri Sulung dan Putri Tengah senang sekali melihatnya. Mereka jatuh cinta pada ksatria itu. Ia kembali mengejek adiknya, karena terburu-buru menikahi Joko Kendil.
Putri Bungsu pun berlari ke kamarnya sambil menangis. Di sana ia melihat sebuah kendi. Karena kesal, ia membanting kendi itu hingga berkeping-keping.
Ksatria gagah itu masuk ke dalam kamar Putri Bungsu. Ia mencari kendi, tapi kendi itu sudah hancur. Lalu ia melihat Putri Bungsu menangis tersedu-sedu. “Ada apa istriku?” tanyanya. Tentu saja Putri Bungsu kaget. Bukankah suaminya adalah Joko Kendil? Lalu ksatria itu menceritakan dirinya yang sebenarnya. Ia sebenarnya Joko Kendil, suaminya. Ia selama ini harus memakai pakaian dalam bentuk kendi. Tapi ia dapat kembali menjelma menjadi ksatria kalau seorang putri mau menikah dengannya.
Begitu tahu kalau ksatria tampan itu Joko Kendil, betapa menyesalnya Putri Sulung dan Putri Tengah. Sebaliknya dengan Putri Bungsu, ia menjadi sangat bahagia bersama Joko Kendil yang telah menjelma menjadi pria yang rupawan.
*Orang Jawa menyebut periuk = kendil.

 Cuplikan vidionya:


sumber: http://www.kumpulandongeng.com/cerita-legenda/cerita-legenda-rakyat-joko-kendil/

Rabu, 03 Desember 2014

Keong Mas





Akibat hendak di ambil paksa oleh Nyi Ireng, seorang penyihir Jahat.

Raja dan ratu merelakan Putri bungsunya dirubah menjadi Keong Mas oleh 7 Penyihir baik dan dititipkan ke seorang perempuan desa bernama “Mbok Rondo“.
Namun keadaan yang semula aman, berubah menjadi petaka, masalahnya Keong Mas mempunyai keistimewaan, yaitu, air matanya bisa berubah menjadi permata.
Hingga bisa merubah status sosial Mbok Rondo, yang semula Rakyat miskin biasa tiba tiba berubah menjadi Kaya Raya.

Hal inilah yang membuat Juragan Rekso menjadi Iri, dan berniat untuk menculik Keong mas, dengan harapan, dia bisa menjadi kaya melebihi Mbok Rondo.

Niatan Juragan Rekso memang berhasil namun, ketamakan akan harta dunia membuat dia kehilangan kendali.
Dia paksa, keong mas untuk menangis setiap hari, bahkan, Mbok Rondo yang menyimpan alat tenun tua tanpa jarum dilaporkan ke prajurit, membuat Mbok Rondo akhirnya di penjara.

Saat permata yang keluar dari mata keong mas makin banyak, Nyai Ireng yang kehilangan bayi perempuan milik Raja tahu, kalu yang air matanya jadi permata itu ternyata Keong mas, bayi yang dicarinya selama ini.

Di istananya, Keong mas Oleh Nyi Ireng dipaksa untuk menenun dengan harapan, tangannya segera tertusuk jaum, tak sadarkan diri, dengan begitu, ia bisa menyerahkan ke raksasa sebagai santapan, dengan harapan diberikan imbalan kekuatan.

Ternyata, memang sudah menjadi kepastian, bahwa kebaikan ternyata selalu bisa menang jika melawan kejahatan. Begitu juga dalam cerita ini, cinta kasih serta ketulusan dari Mbok Rondo kepada Keong Mas ternyata berhasil membinasakan Nyai Ireng juga raksasa.

Keong Mas hidup berbahagia di istana dengan membawa serta Mbok Rondo, perempuan desa yang selama ini merawatnya.

sumber: http://www.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5606&Itemid=60